Thursday, June 08, 2006
Pendidikan itu Hak, bukan Kewajiban !

Diantara perdebatan tentang sebuah moral di negeri ini, ada hal yang hingga saat ini hanya pada tingkat wacana, yakni PENDIDIKAN GRATIS BERKUALITAS. Walau sudah diamanatkan dalam UUD RI bahwa Pemerintah harus melakukan upaya-upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan melakukan upaya peningkatan kualitas dan kuantitas pendidikan, namun hingga saat ini masih sangat sedikit dukungan nyata pemerintah yang diberikan, baik dalam hal kebijakan maupun pendanaan.

Semakin seringnya guru bantu melakukan aksi agar dapat tetap bekerja sebagai guru, semakin banyaknya tayangan sekolah rusak dalam berbagai media, hingga bermunculannya gejala magis di beberapa sekolah dalam bulan terakhir, memperkuat penggejalaan bahwa pendidikan ternyata masih diabaikan.


Pendidikan itu Bisnis!

Saat ini, baik sekolah negeri (yang harusnya didanai oleh pemerintah) maupun sekolah swasta, bahkan hingga ke tingkat perguruan tinggi dan lembaga pendidikan non-formal, telah menawarkan kualitas pendidikan dengan disetarakan pada biaya pendidikan. Untuk sebuah sekolah plus setingkat SLTP saja, tidak kurang dibutuhkan biaya setara dengan pendidikan S2 di perguruan tinggi negeri.

Di sekolah negeri, dengan dalih ketiadaan biaya, semakin banyak gedung-gedung sekolah yang dibiarkan rubuh. Juga ketika angka ketidaklulusan semakin tinggi disaat ujian nasional, maka ketiadaan fasilitas pembelajaran menjadi sebuah alasan berulang.

Berbeda pada perguruan tinggi negeri, di saat pergeseran kebijakan perguruan tinggi yang akan mem-badan hukum milik negara-kan, menjadikan komersialisasi pendidikan semakin meningkat. Kualitas pendidik dan kurikulum pendidikan tidak pernah lagi terperhatikan. Malah semakin meningkat penggejalaan sebuah perguruan tinggi menjadi sebuah super mall yang menyediakan beragam gelar kesarjanaan maupun gelar magister.


Pendidikan Berkualitas itu Tidak Penting!

Arah pendidikan saat ini, sebagian besarnya menjerumuskan beragam sumberdaya manusia negeri ini ke arah penyeragaman dan menjadikan robot. Lingkar-lingkar kreatifitas dan daya pikir kritis telah dimatikan secara struktural. Kurikulum pendidikan dibuat untuk pemenuhan lapangan pekerjaan, yang sebagiannya adalah bernuansa penggerusan kekayaan alam.

Bidang-bidang pendidikan yang dipandang tidak lagi memiliki prospek pekerjaan semakin dijauhi. Keterampilan spesialis dan teknis menjadi sebuah primadona baru dalam dunia pendidikan saat ini. Keterampilan generalis dan kepemimpinan mulai termatikan di pendidikan formal, malah saat ini dikuasai oleh pelaksana pendidikan non-formal, yang sudah tentu tidak dengan biaya murah.

Kurikulum sebagai urat nadi kualitas lulusan sekolah maupun perguruan tinggi, sangat cepat berganti tanpa pernah dilakukan evaluasi menyeluruh berkaitan dengan kualitas yang dihasilkan. Kurikulum hanya sebuah efek mekanis yang akan menghasilkan otak mampu dikontrol dari satu titik, tanpa memberikan ruang berkembangnya kemampuan berpikir. Hanya 1% bagian otak yang digunakan dalam proses belajar di sekolah maupun di perguruan tinggi di Indonesia saat ini.


Pendidikan itu Kewajiban: Awal Kehancuran!

Penggiringan pendidikan anak negeri ke jurang kehancuran bermula pada meletakkan pendidikan sebagai sebuah kewajiban, sehingga tertancapkanlah pemikiran di seluruh keluarga di negeri ini bahwa pendidikan itu wajib. Dengan semakin banyaknya pihak yang berkewajiban menjalani proses pendidikan formal, maka ini menjadikan pendidikan sebagai sebuah arena bisnis. Bila saja penyedia jasa pendidikan semakin sedikit, maka penyedia jasa pendidikan dapat dengan berdasarkan keinginan sendiri untuk menentukan besarnya imbal jasa yang diberikan. Inilah awal sebuah bisnis pendidikan yang menjadikan pendidikan itu mahal.

Program wajib belajar 9 tahun pun menjadikan wilayah pendidikan dipaksakan ada, tanpa pernah memandang kualitas. Pendidikan pun kemudian dipandang sebagai sebuah kerangkeng baru bagi anak-anak, dikarenakan pola-pola pengajaran menjadi diseragamkan sepanjang kepulauan Nusantara ini. Pengembangan kurikulum dan pola pembelajaran kelokalan menjadi sangat sukar berkembang.

Kualitas pengajar pun dipaksakan untuk meningkat dengan sebuah kewajiban gelar kesarjanaan untuk mengajar. Padahal tidak ada hubungan yang erat antara gelar kesarjanaan dengan kualitas pengajar. Kualitas pengajar hanya akan bisa dihasilkan dari sebuah proses pembelajaran kritis dan kreatif para pengajar saat melakukan interaksi dengan siswa dan alam sekitarnya.


Pendidikan itu Hak!

Pendidikan adalah hak. Negara, dalam hal ini pemerintah, berkewajiban untuk memenuhkan hak dari setiap anak di negeri ini. Meletakkan pendidikan sebagai hak, memberikan sebuah beban bagi pemerintah untuk memberikan yang terbaik bagi penerima hak. Kualitas pendidikan, bukan hanya kuantitasnya, wajib dipenuhi oleh pemerintah sebagai penyelenggara negara.

Meletakkan pendidikan sebagai sebuah hak, ini juga memposisikan pendidikan sebagai sebuah kebutuhan bersama. Pendidikan bukan menjadi sebuah perdagangan jasa, namun menjadi sebuah solidaritas pemenuhan hak berkehidupan. Pemerintah sudah saatnya mengembalikan roh pendidikan pada wilayah asasi manusia. Pengaturan terhadap pengembangan bisnis pendidikan, penguatan kualitas lembaga pendidikan formal, serta membuka peluang keberagaman kurikulum menjadi mendesak untuk dilaksanakan.

Pendidikan sebagai sebuah hak, juga harus ditempatkan pada kebebasan berekspresi bagi anak dalam menjalani proses pendidikan. Tidak memisahkan dunia anak pada sebuah kotak tertutup bernama sekolah, serta menjadikan alam sekitar sebagai wahana pendidikan, merupakan sebuah hal yang menarik untuk terus dikembangkan.

Program-program Bantuan Operasional Sekolah, Komite Sekolah, hingga Kurikulum Berbasis Kompetensi, harus diperbaiki dengan mengedepankan komitmen baru, bahwa pendidikan adalah hak, bukan kewajiban. Skema ujian nasional pun harus diberangus agar para pendidik di berbagai wilayah negeri tidak berlomba melakukan penipuan berkelanjutan. Tumbuhkan kebersamaan membangun generasi negeri dengan menyatakan “PENDIDIKAN ITU HAK”. [060608]
 
mirror: http://timpakul.hijaubiru.org/pendidikan-6/

Posted at 11:45 am by timpakul -<>- komentar  -<>-  




Sunday, October 30, 2005
menapaki ruang hampa

terlalu berat merangkak
diantara angkuhnya hutan mal
disela anak tikus yang mengais sisa sahur

ingin berjalan
mengarah pada ruang hampa
yang hilangkan beban jiwa

saatnya berlari
tinggalkan mimpi
:tuju kemapanan

[ 051016 : 14.30 ]
:: berpindah ke ruang http://timpakul.hijaubiru.org/

Posted at 07:23 pm by timpakul -<>- komentar  -<>-  




Wednesday, May 11, 2005
aku terpaksa menjadi tikus

sebuah catatan pinggiran karang mumus

Aku terpaksa menjadi "tikus" yang terus menggerogoti uang rakyat. Berlimpahnya gelimangan rupiah, dollar bahkan euro telah memaksaku untuk menjadi seekor tikus. Aku berpikir lebih baik aku tidak bertopengkan kucing karena aku tak ingin menjadi seekor tikus yang munafik. Lebih baik aku menjadi jujur pada diriku, hidupku, dan nuraniku daripada aku harus selalu bertopengkan kebaikan untuk menggerogoti hak-hak mereka.

Setahun ini aku benar-benar selalu terpusingkan dengan semakin meningginya harga barang, bahkan segenggam beraspun sudah tak sanggup aku beli sehingga aku harus mengumpulkan ceceran beras di gudang bulog yang sudah hampir membusuk. Menimba ilmu? ah... itu basa-basi. Bagaimana mungkin aku bisa belajar dengan tenang di saat perut tak lagi berisi. Belum lagi bila harus mendengar caci petugas administrasi kampus yang selalu menagihkan uang SPP.

Ingin rasanya mengencangkan ikat pinggang, tapi apa daya ikat pinggangpun tak sanggup terbeli. Berteduh dari rintik hujan semakin sukar, karena tak lagi ada pohon rindang tempatku bermain dulu yang telah dilahap oleh kucing rakus dari tanah seberang. Belum lagi diriku harus bertahan dari dinginnya emperan toko yang telah menjadi sungai kecil. Walau kadang aku dapat membahagiakan diriku dengan sesekali berenang di kolam buatan bekas tambang emas atau batubara yang akupun tak tahu telah berapa banyak dollar mengalir ke kocek tuan tanah dari negeri seberang itu.

Menjadi tikus adalah bukan sebuah pilihan, karena pilihan lain adalah mengakhiri hidup seperti siswa SD di tanah Jawa yang malu karena tak mampu membayar uang sekolah. Aku belum cukup berani untuk itu. Aku pun tidak ingin menjadi seekor tikus gembul yang membuat badanku tak lagi mampu berlari. Aku hanya perlu untuk bisa tetap hidup. Aku hanya butuh untuk bisa tetap melangkah. Mencari ganjal perut di tempat sampah yang telah dipenuhi oleh racun pun tak apa kujalani, namun itu tak mungkin kuberikan pada mereka yang sangat aku sayangi. Aku tetap ingin mereka hidup dengan layaknya. Bisa makan tiga kali sehari dengan menu empat sehat lima sempurna. Bisa punya baju baru yang bisa dipamerkan pada teman-teman mereka saat hari besar agama. Bisa tetap memegang selembar buku dan setangkai pensil untuk mencatatkan pelajaran yang tidak mungkin mampu diingat seluruhnya.

Dan aku juga tidak ingin menjadi tikus yang merugikan bagi saudaraku sedarah yang selama ini hidup berdampingan dengan aku. Terkadang aku muak dengan jargon-jargon kawan-kawanku yang selalu meneriakkan kesejahteraan, kebahagiaan, keceriaan. Mereka berteriak, tapi mereka juga menjadi seekor tikus besar. Menghisap darah saudaranya, menyikut hidup kerabatnya. Demi sebuah tegaknya dagu kehormatan diri. Sejatinya mereka bahkan tidak lagi cukup hanya menjadi tidak lapar, tapi mereka ingin tidur di tumpukan dollar.

Sesekali aku berhadap orang dari negeri seberang yang membawa berkarung-karung harta mau membagikan sekeping emas padaku. Saat mereka tiba mereka selalu bilang padaku, mereka ingin lestarikan pohon tua itu, mereka ingin agar saudara-saudaraku tidak lapar, mereka ingin agar negaraku menjadi lebih makmur. Senyatanya mereka sendiri yang menghabiskan berkarung-karung harta yang mereka bawa. Hanya serpihan dan debu harta merekalah yang sempat dirasakan kawan-kawanku. Setelah dahaga mereka tercukupkan, berlayarlah mereka ke pulau sebelah dan mengatakan pada majikannya bahwa mereka telah melakukan tugas dengan baik dan benar.

Lalu, salahkah bila aku menjadi seekor tikus yang mengerat remah-remah? Ataukah aku harus tidak lagi boleh berdiri tegak di tanah yang tergadaikan ini? Menjadi tikus, bukan kucing bertopeng tikus, adalah sebuah cita bagi diriku. Agar aku tetap dapat menyaksikan semua drama kemunafikan dengan mata kepalaku sendiri. Bukan dari dongeng klasik seperti yang selalu diperdengarkan oleh ibuku disaat aku masih belum mampu berdiri tegak di atas tanah yang telah tergadaikan ini.

Mungkin suatu saat aku tak lagi menjadi seekor tikus. Karena kucing telah bergeliat bangun dari tidur panjangnya setelah sekian lama dibius oleh aroma kemewahan yang dibawa oleh serigala putih dari negeri utara. Namun aku akan tetap menjadi tikus dan akan ajak saudaraku untuk menjadi tikus, mempersatukan para tikus untuk melawan serigala putih yang saat ini tengah berdiri dengan angkuhnya.

[ timpakul: 050511]
:: sebuah coretan kecil terhadap banyaknya serigala berbulu domba disekitarku

Posted at 07:37 am by timpakul -<>- komentar  -<>-  




Saturday, April 09, 2005
panjangnya sepuluh sentimeter

Panjangnya 10 sentimeter, dengan lebar 3-4 sentimeter. Panjang sungut mencapai 20 hingga 30 sentimeter,warna kehitaman, mengkilat, mata kecil memanjang...... inilah kecoa yang sangat dibanggakan oleh LIPI saat mereka temukan di wilayah karst di kutai timur.....

Kecoa itu kabarnya terbesar di dunia, hampir sama dengan jumlah desa di kaltim masih tertinggal (lebih dari 360). Saat ini, sang kecoa harus naik ke pohon karena banjir semakin meninggi di hulu mahakan yang menyebabkan warga tering terancam kelaparan... jalan samarinda-melak pun terputus.... sekolah dan pasar harus pindah ke bukit.... walau katanya kaltim akan jadi pusat lingkungan hidup regional.....

mungkin karena itu kaltim menawarkan 5 blok migas baru.... dan samarinda yang semakin miskin siap-siap membangun pltg senilai 1 triliun...

ini wajar... karena DPD masih miskin data sehingga tak mampu berbuat....
ah... mungkin harus menanti kehadiran dewa di derawan...

"kapitalisme" masih diperbincangkan...
"NGO akuntabel dan transparan" sebuah tanya

"Aktifis bersatulah menggalang kekuatan politik alternatif di Kaltim !" menunggu kata
"bersaudarakah kita?" menanti jawab

ps: aku kapitalis, memang kenapa?
[ timpakul: 050409:18.21.28]

Posted at 06:21 pm by timpakul -<>- komentar  -<>-  




Saturday, December 06, 2003
aku komunis, memang kenapa?

Baru saja aku melalui sebuah papan bertuliskan “Posko Gerakan Anti Komunis”. Ini bukan pertama kalinya aku menyaksikan sebuah harmonisasi kehidupan Indonesia saat ini. Sangat cepat sekali aku harus menyatakan aku membenci dia karena dia tak sepaham dengan aku.

Mungkin belum terlalu lama juga berlalu ketika buku-buku yang katanya beraliran kiri di’jarah’ dan dibakar dari tempat-tempat penjualan buku. Juga ketika kalangan mahasiswa yang membentuk perlawanan terhadap gambar che Guevara. Atau ketika jamaah Islamiyah yang dicap oleh negara utara sebagai teroris, maka sontak membuat banyak orang menyatakan membenci mereka.

Terkadang banyak hal yang sudah tidak bisa lagi dimasukkan ke dalam aras pemikiran sehat. Semua akhirnya bermuara pada bilangan aku suka dan aku benci. Masih sangatlah jauh untuk melihat yang berada pada kisaran aku suka dan aku tak benci. Kaidah nilai sesungguhnya telah dihilangkan dalam sebuah perjalanan napas kehidupan. Berada dalam sebuah kefatamorganaan, dan juga dalam sebuah permukaan keping mata uang.

Ironis juga ketika menyaksikan deretan buku bertuliskan perdamaian, silaturrahmi, persaudaraan, kesetaraan, hingga juga begitu banyaknya audio dan video yang menyuarakan kebersamaan. Hilir mudik pergerakan manusia telah menghilangkan sebuah nilai nurani dan jiwa yang menjadi ruang yang seharusnya. Kontak sosial telah menjadikan manusia berada dalam kamar yang bersekat, serta tanpa pintu dan jendela.

Tak ada yang salah dalam perputaran bola dunia. Tak ada yang berbeda dalam kecepatan aliran air di permukaan bumi. Tak ada yang berubah dalam wujud angin yang menerpa pepohonan. Semua belum berubah. Hanya nurani dan jiwa manusia yang berubah. Hanya itu.

Agama yang katanya sebuah pondasi bagi jiwa, ternyata hanya menjadi hiasan aura batin. Ideologi yang katanya sebuah pijakan keinginan, ternyata hanya menjadi tongkat pembunuh. Telah tercangkok dalam akal pikiran sebuah nilai bahwa aku boleh bertahan hidup, sedang dirimu tak boleh. Telah tertanam dalam hati sebuah nilai bahwa hanya akulah yang tak memiliki larangan, sedang dirimu harus dalam genggamanku.

Kadang yang terlintas hanyalah bagaimana aku bisa memanfaatkan dirimu agar aku bisa berada terus dipermukaan aliran sungai walau aku tak mampu untuk berenang. Kadang yang menggantung hanyalah bagaimana aku bisa menguras hakmu agar aku bisa terpuaskan nafsuku. Kadang yang terjadi hanyalah bagaimana aku bisa hidup tidak dengan dirimu, karena aku tidak pernah merasa dirimu berguna bagiku.

Derai air mata, curahan keringat, tetesan darah segar bukanlah sebuah halangan bagi pergulatan kehidupan. Ketika agama dan ideologi menjadi tameng, semuanya hanya akan menjadi musik penghibur. Ketika agama dan ideologi hanya kemunafikan, semuanya hanya akan menjadi tarian erotisme.

Mungkin ini harus tetap terjadi, hingga semua telah bosan untuk saling berkata benci. Mungkin ini harus tetap terjadi, hingga semua telah lelah untuk saling berkata perang. Mungkin ini harus tetap terjadi, hingga semua telah kehabisan keringat, air mata dan darah.

Kalau aku memang komunis, memangnya kenapa? Apakah aku tak boleh untuk menikmati ruang hidup yang telah diberikan oleh yang memberiku aliran ruh kehidupan? Apakah dunia ini bukan sebuah tempat bagi aku yang telah memilih diriku sebagai komunis? Apa yang salah dengan komunis, selain ia telah divonis bersalah oleh manusia yang sebenarnya tidak punya hak untuk memberikan vonis.

[ timpakul :: tpu.031206.1851 ]

Posted at 06:51 pm by timpakul -<>- komentar  -<>-  

ketika aku tak tahu besok aku harus makan apa

Waktu di laptopku sudah menunjukkan lewat tengah malam. Namun kawanku belum enggan untuk berhenti bercerita tentang sebuah kegundahan jiwa dalam memaknai sebuah kematian kehidupan bergerakan.

Sangat banyak kawannya yang semakin hari semakin enggan untuk berbicara gerakan. Semakin hari semakin enggan berbicara revolusi. Entah apa yang membuat hal tersebut harus terjadi, namun hal tersebut telah terjadi.

Dari sebuah gerakan perlawanan, menjadi sebuah perjalanan hidup dengan merangkak. Dari sebuah gerakan pemberontakan, menjadi sebuah pemenuhan isi perut. Dari sebuah perjuangan, menjadi sebuah kebertahanan untuk tetap dapat melihat suramnya dunia.

Tak banyak pihak yang sempat memikirkan seperti apa yang dipikirkan oleh kawanku ini. Aktivis yang telah tumbuh banyak di negeri ini akhirnya satu persatu berguguran setelah harus kembali pada dunia nyata, dimana perut tak mungkin diisi dengan ideologis, dimana badan tak mungkin berbaju surat protes, dan anak tak mungkin hidup beratapkan perjuangan.

Ini mungkin adalah hal yang terlalu sering dilupakan. Kembali melihat pada realita kehidupan dimana hidup tak akan pernah berhenti untuk menunggu lahirnya kesempatan baru. Roda kehidupan terus bergulir diantara cepatnya perputaran otak dan peredaran amarah jiwa. Mungkin tak akan ada yang sanggup dengan sebuah laju perubahan yang terjadi dalam dunia nyata yang katanya fana ini.

Otakku semakin tak mampu berpikir setelah sekian lama berada dalam sebuah kotak sempit tak berujung. Dalam sebuah labirin tak jelas arah. Sekian lama aku coba uraikan pertanyaan yang terlontar oleh kawanku ini. Bukan hanya saat ini, jauh sebelum aku menentukan bahwa aku harus melakukan sesuatu agar ada sebuah kemerdekaan jiwa yang sesungguhnya. Aku juga telah cukup lama mengabaikan hal tersebut, aku tak pernah mau terseret dalam alur hidup, namun ternyata telah banyak yang terhanyut di dalam derasnya aliran kehidupan.

Aku coba menjelajah dalam ruang tak bersekat untuk melihat arah mana dalam labirin jiwaku yang harus aku tempuhi. Menjauh dari permukaan kehidupan yang jelas-jelas tak pernah diketahui apa yang akan terjadi esok hari. Meninggalkan ruang hati yang terkungkung kemunafikan hidup. Aku selalu mencoba untuk lari dari sebuah jalan yang sebenarnya menampakkan kemeriahan kehidupan. Hingga aku juga belum temukan sebuah jawab atas tanya kawanku tadi.

Kita harus berjuang, kita harus melawan, kita harus berani teriak lawan. Jangan pernah berhenti berjuang. Libas semua lawan didepan. Teruslah berjuang. Bersatulah rakyat, kita pasti menang. Usir pengusaha. Enyahkan kapitalis. Tolak privatisasi.

Ah.. semua adalah kesemuan. Ketika harus kembali mendarat pada kehidupan, semuanya adalah kepalsuan. Revolusi, reformasi, pemberontakan, advokasi, dan sejuta hal dalam melawan kekuasaan, hanyalah sebuah kata semu yang tak pernah mampu memberikan ruang hidup pada makhluk kecil yang membahagiakan jiwa.

Apa yang sebenarnya ingin diraih? Kemerdekaan? Kesejahteraan? Kebahagiaan? Kemandirian? Atau apa? Semua hanyalah riasan pikiran yang dilakukan untuk mempertahankan hidup. Aku sendiri belum pernah mampu mengatakan diriku mampu untuk berdiri diatas kakiku sendiri. Semua berlaku seperti yang selama ini lawan lakukan. Tak pernah ada sebuah kata pasti dalam aliran hidup ini.

Apakah benar tak ada jawab atas semua? Aku ragu dengan ini. Aku masih yakin ada sebuah jawab dalam melihat dimensi lain sebuah perjuangan. Aku masih tetap berketetapan bahwa jawab itu pasti ada. Hanya tinggal kemenerimaan akal saja yang kadang menghalangi hadirnya sebuah jawab.

Jiwa dan nurani telah tergadaikan selama berada dalam sebuah kotak hitam yang penuh dengan labirin kepalsuan ini. Haruskah berjuang untuk orang lain, disaat jiwa tak mampu berjuang untuk asa dan hidup sendiri? Mungkin hanya satu jawab, aku harus berhenti berkata bahwa aku sedang berjuang untuk mereka, karena aku hanyalah berjuang untuk diriku sendiri.

[ timpakul:: tpu.031206.1816 ]

Posted at 06:16 pm by timpakul -<>- komentar  -<>-  




anak_timpakul_di_tepi_karang_mumus
anak timpakul menikmati sumpeknya kota kayu yang sarat dengan gemerlapnya kemunafikan dan keangkuhan anak manusia di tepian karang mumus yang kian menghitam seiring hilangnya seutas senyum dan canda anak anak timpakul yang tak lagi ada tempat untuk bermain

<< January 2012 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31


   

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:






rss feed